Cerita Rakyat: Timun Mas dan Buto Ijo

Dongeng Timun Mas merupakan salah satu cerita rakyat atau cerita folktale yang berasal dari Indonesia.

Cerita ini bercerita tentang seorang putri yang lahir dari sebutir buah timun yang diinginkan oleh seorang perempuan paruh baya yang sudah lama ingin memiliki anak.

Cerita Timun Mas sangat terkenal di Indonesia dan telah dikenal sejak lama di kalangan masyarakat.

Cerita ini juga telah diadaptasi ke berbagai bentuk seperti drama, tari, film, dan cerita anak-anak.

Dongeng Timun Mas berasal dari Indonesia, tepatnya dari daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Cerita ini dikenal di berbagai daerah di Indonesia dengan beberapa variasi dalam cerita dan karakter tokohnya.

Meskipun demikian, cerita ini telah menjadi bagian dari kebudayaan Indonesia dan dikenal oleh banyak orang di dalam dan luar negeri.

Yuk! Baca cerita rakyat seru Timun Mas dibawah ini.

Timun Mas.

Di sebuah desa hiduplah seorang perempuan tua bernama Mbok Tukiyem.

Ia hidup sebatang kara. Mbok Tukiyem ingin sekali memiliki seorang anak, agar dapat merawat dirinya yang sudah mulai tua.

Namun, itu semua mustahil karena ia tidak mempunyai suami.

Setiap hari Mbok Tukiyem pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar.

Pada suatu hari, di tengah hutan. Ia bertemu dengan seorang Buto Ijo yang sangat menyeramkan.

Tubuh Buto Ijo itu lebih tinggi dari pohon.

Kulitnya penuh dengan bulu yang kasar. Kulitnya gelap.

Mulutnya terdapat sepasang taring yang sangat tajam. Kukunya panjang dan kotor.

Mbok Tukiyem sangat ketakutan.

Tubuhnya gemetaran melihat mahluk yang sangat besar itu.

Buto Ijo itu berkata dengan suara yang sangat membahana:

” Hei, perempuan tua? Jangan takut, aku tidak akan memakanmu. Kamu sudah terlalu tua. Dagingmu keras dan tidak enak. Aku datang kesini hanya ingin memberikan sesuatu padamu.”

Buto Ijo itu memberikan beberapa butir benih tanaman dan berkata,

”Tanamlah benih ini dan rawatlah dengan baik dan kau akan mendapatkan semua yang kau inginkan selama ini.. tapi ingat, kau tidak boleh menikmatnya seorang diri. Kau harus memberikannya kepadaku juga sebagai tanda terima kasih.”

Mbok Tukiyem hanya mengangguk.

Ia langsung pulang ke rumahnya.

Setiba Mbok Tukiyem dirumah, sesuai dengan petunjuk si Buto Ijo itu, di tanamlah benih tersebut. Ajaibnya, keesokan harinya, benih tanaman itu telah tumbuh menjadi tanaman mentimun.

Buah-buahnya besar-besar. Jika terkena sinar matahari, warnanya besinar seperti emas.

Karena penasaran dengan buah mentimun itu, akhirnya di petiklah satu yang paling besar.

Ketika di belah, Mbok Tukiyem sangat terkejut. Di dalam timun tersebut ada seorang bayi perempuan yang sangat cantik.

“Jadi ini maksud dari ucapan si Buto Ijo.” ujarnya dalam hati.

Betapa senangnya Mbok Tukiyem.

Tidak pernah terbayangkan akan mempunyai seorang anak perempuan yang sangat cantik. Karena lahir dari buah mentimun berwarna keemasan. Anak itu di beri nama Timun Mas.

Keesokan harinya, di hutan, Mbok Tukiyem bertemu kembali dengan si Buto Ijo RakEngasa itu berkata, ” Engkau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan selama ini. Sesuai dengan janjimu, engkau harus membaginya denganku.”

Mbok Tukiyem bingung, ia bertanya, ” Bagaimna mungkin bayi perempuan bisa dibagi?”

“Tidak usah bingung perempuan tua. Kau boleh memilikinya sampai usia 17 tahun.

Selanjutnya. Anak itu akan menjadi santapanku.” Jelas Buto Ijo.

“Baiklah Buto Ijo. Aku akan merawat anak itu, dan menganggap anak itu anakku sendiri sampai usia 17 tahun,” ujar Mbok Tukiyem.

Timun Mas tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat baik hati dan cantik jelita. Kulitnya kuning langsat. Tubuhnya tinggi semampai. Rambutnya hitam berkilau. Semakin hari kecantikannya, semakin terlihat.

Timun Mas juga sangat rajin membantu ibunya. Ia selalu menemani ibunya mencari kayu bakar di hutan. Kebaikan hati Timun Mas membuat Mbok Tukiyem khawatir kehilangannya. Ia sangat menyayangi Timun Mas untuk menjadi santapan si Buto Ijo.

Tahun demi tahun terus berganti. Kini, Timun Mas sudah menginjak usia 17 tahun.

Sudah waktunya bagi Buto Ijo itu untuk mengambil Timun Mas Mbok Tukiyem menyuruh Timun Mas bersembunyi di dalam kamar.

Tiba-tiba, terdengar suara dentuman yang sangat keras. Itu adalah suara langkah kaki si Buto Ijo. Mbok Tukiyem gemetar ketakutan.

“Hai perempuan tua! Mana anak perempuanmu yang telah kau janjikan untukku ?” teriak Buto Ijo itu.

“Ia sedang mandi di kali, Tuan Buto Ijo. Tubuhnya sangat bau. Kau pasti tidak akan suka memakannya” Ujar Mbok Tukiyem.

“Baiklah. Aku akan kembali seminggu lagi. Pastikan ketika aku kembali ia sudah siap untuk ku bawa ke hutan.” Ujar Buto Ijo.

“Tentu saja. Tuan. Aku tak akan mengecewakanmu.” Ujar Mbok Tukiyem.

Maka pergilah Buto Ijo itu kembali ke hutan. Mbok Tukiyem dan Timun Mas sangat lega.

Mereka masih punya waktu semiggu untuk bersama. Namun, setelah seminggu berlalu dan Buto Ijo itu datang kembali, ibu dan anak ini tetap tidak mau berpisah.

Timun Mas kembali bersembunyi. Kali ini di dapur, di dalam tempayan air yang kosong.

”Hai perempuan tua. Aku kembali untuk menagih janjimu! Cepat serahkan anak perempuanmu.” Teriak si Buto Ijo.

” Maaf, Tuan Buto Ijo. Timun Mas sedang menjual kayu ke kampung. Bila saja engkau datang lebih pagi, engkau pasti bertemu dengan dia.” Ujar Mbok Tukiyem

Dengan setengah marah Buto Ijo itu berteriak. ” Baiklah, ku beri waktu 1 minggu lagi. Jika anakmu tidak kau serahkan kepadaku. Akan ku hancurkan rumahmu.”

Mbok Tukiyem semakin ketakutan dan bingung denngan ancaman si Buto Ijo.

Ia sungguh tidak rela anak perempuanya yang sangat cantik menjadi santapan si Buto Ijo yang kejam itu. Melihat keadaan ibunya. Timun Mas berkata. ” Ibu, janganlah bersedih. Relakanlah aku menjadi santapan Buto Ijo itu.” Ujar Timun Mas.

“Tidak anakku. Ibu tidak akan membiarkanmu menjadi mangsa Buto Ijo jahat itu. ibu akan melakukan apapun untuk menyelamatkanmu.” Ujar Mbok Tukiyem.

Kemudian Mbok Tukiyem pergi menemui seorang kakek yang sakti tinggal di gunung.

Kakek sakti itu memberikan benih mentimun, sebuah duri, sebutir garam, dan sepotong terasi.

Seminggu kemudian, Buto Ijo itu datang lagi. Kali ini, si Buto Ijo sudah tidak dapat menahan emosinya. Kakinya yang besar, di hentak-hentakan ke tanah sehingga bumi bergetar.

“Cepat serahkan anakmu atau ku hancurkan rumah beserta dirimu! Aku sudah sangat lapar!” teriak Buto Ijo.

” Maaf, Tuan Buto Ijo. Anakku sudah berjalan ke hutan. Kembalilah engkau ke hutan tempat tinggalmu. Timun Mas sudah berada di sana.” Kata Mbok berbohong.

Pada saat itu. Timun Mas sudah keluar rumah melalui pintu belakang. Ia membawa semua benda yang di berikan oleh kakek sakti dari gunung itu.

Ketika akan kembali ke hutan, si Buto Ijo melihat Timun Mas berlari dari belakang rumah. Di kejarnya Timun Mas.

Meskipun panik. Timun Mas masih mengingat perintah ibunya untuk melempar sebutir benih mentimun.

Benih mentimun itu langsung berubah menjadi lading mentimun dengan buah yang besar-besar. Karena kelaparan, si Buto Ijo memakan mentimun-mentimun di ladang itu. Setelah keyang.

Ia kembali mengejar Timun Mas. Meskipun perutnya yang kekenyangan membuat jalannya menjadi lambat. Buto Ijo itu tetap bisa mengejar Timun Mas karena langkah kakinya yang panjang.

Ketika si Buto Ijo sudah dekat. Timun Mas melemparkan sebuah duri.

Duni itu berubah menjadi sebuah hutan bambu. Hutan bambu itu memperlambat jalan Buto Ijo itu. Tubuhnya menjadi penuh luka karena tertusuk batang bambu.

Namun, Buto Ijo itu tidak menyerah. Ia tetap mengejar mangsanya. Kali ini, Timun Mas melemparkan sebutir garam. Garam itu berubah menjadi sebuah lautan yang luas.

Buto Ijo itu harus berenang untuk mengejar Timun Mas. Ia berhasil, tetapi tubuhnya sudah sangat lelah.

Buto Ijo itu terus mengejar Timun Mas meskipun sudah kelelahan. Timun Mas melempar sepotong terasi. Kali ini terasi tersebut berubah menjadi lumpur hisap. Buto Ijo itu berteriak meminta tolong ketika tubuhnya terhisap lumpur.

Tubuh Buto Ijo yang besar tidak mampu melawan hisapan lumpur karena kelelahan. Ia pun tewas terhisap lumpur. Maka, tamatlah riwayat Buto Ijo jahat itu. Setelah bebas dari Buto Ijo jahat itu. Kehidupan Timun Mas dan Mbok Tukiyem membaik.

Timun Mas bertemu dengan seorang pangeran dari negeri seberang. Pangeran itu jatuh cinta kepadanya. Mereka pun menikah. Timun Mas dan Mbok Tukiyem diboyong oleh pangeran itu ke istananya. Mereka hidup bahagia selamanya.

Pesan Moral dari Cerita Legenda Timun Mas dari Jawa Tengah adalah janganlah kita bertindak semena-mena terhadap orang lain. Karena hal itu akan membawa malapetaka bagi diri sendiri

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *